Etika, Moral dan Akhlak dalam pendidikan

Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia tidak bisa hidup seorang diri. Manusia membutuhkan bantuan dan keberadaan orang lain. Bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan materinya saja, namun juga kebutuhan non materinya. Seperti kebutuhan seorang manusia pada sosok ke dua orang tua, teman maupun sosok seorang guru. Kebutuhan ini mendorong terjadinya interaksi antar manusia yang kemudian menjadi titik awal lahirnya sejarah, sejak awal peradaban manusia hingga kita saat ini. Seiring berjalannya sejarah, muncul warisan peradaban berupa kebudayaan. Salah satu bagiannya dikenal sebagai adab dan akhlak, yang mewarnai perjalanan sejarah manusia.

Adab yaitu serangkaian perbuatan atau norma tentang sopan santun yang didasarkan atas aturan agama atau keyakinan suatu masyarakat. Dalam agam Islam kemudian dikenal dengan adab. Adab berasal dari bahasa Arab, artinya “terpuji” atau “perbuatan yang terpuji”. Dalam perkembangannya, adab memiliki pengertian yang lebih luas. Bukan hanya serangkaian norma tentang sopan santun tapi juga tata cara suatu perbuatan, dan tidak lagi hanya didasarkan agama. Bentuknya pun berbeda di masing-masing daerah, tergantung dari kebudayaan dan keyakinan masyarakatnya. Seperti adab makan, adab bertamu, adab berbicara dan lain sebagainya.

Adab berbeda dengan akhlak. Orang seringkali menganggap sama namun sesungguhnya dua hal yang berbeda, meskipun berkaitan. Akhlak berasal dari bahasa Arab, merupakan bentuk plural dari kata “khulq”, artinya karakter atau sifat. Sedangkan secara istilah, Akhlak paling umum diartikan sebagai karakter-karakter atau sifat-sifat yang melekat kuat pada jiwa manusia, yang membuat penyandangnya mudah berbuat sesuatu tanpa perlu pertimbangan. Dengan kata lain akhlak adalah kondisi jiwa manusia yang membuat penyandangnya condong untuk melakukan sesuatu, seperti bersedekahnya orang yang dermawan.

Karakter dermawan membuatnya mudah untuk bersedekah, meskipun dari hartanya sedikit. Karakter dermawan inilah yang merupakan akhlak dan bukan perbuatan sedekah itu sendiri. Sedangkan orang dengan sifat kikir yang bersedekah, belum bisa dikatakan perbuatannya itu adalah cerminan dari karakternya yang dermawan. Karena bisa jadi seseorang itu bersedekah bukan lantaran kondisi jiwanya yang menyukai sedekah, tapi untuk menutupi sifat kikirnya. Meskipun, perbuatan bersedekah terlepas dari apa motivasinya secara umum adalah perbuatan baik.

Meskipun berbeda, adab dan akhlak memiliki hubungan yang sangat erat dan saling terkait. Jika adab terwujud dalam perbuatan, maka akhlak terwujud dalam kondisi jiwa yang menjadi pendorong atau motivasi bagi perbuatan tersebut. Maka adab bisa menjadi efek dari akhlak atau kondisi jiwa, sedangkan akhlak juga bisa menjadi sumber motivasi bagi pelaksanaan adab. Seperti ketika seseorang kedatangan tamu yang dihormatinya, karakter atau kondisi jiwanya yang rendah hati dan penyayang pada sesama yang ada pada jiwanya akan mendorongnya untuk memberikan penghormatan pada tamunya, dan dorongan itu dapat terealisasi dengan adab yang mengatur tata cara menyambut dan menghormati tamu.